Penggunaan strategi yang tepat merupakan salah satu faktor bagi pencapaian pembelajaran efektif. Menurut Gulo (2002), strategi belajar mengajar yang efektif untuk mencapai tujuan tertentu tergantung pada kondisi masing-masing unsur yang terlibat dalam proses belajar mengajar secara faktual. Kemampuan siswa, kemampuan guru, sifat materi, sumber belajar, media pengajaran, faktor logistik, tujuan yang ingin dicapai adalahunsur-unsur pengajaran yang berbeda-beda di setiap tempat dan waktu.
Strategi pembalajaran inkuiri mengacu kepada pembelajaran melalui pengalaman. Hamalik (2001:63) mengemukakan bahwa pembelajaran berdasarkan inkuiri (inkuiri based teaching) adalah suatu strategi yang berpusat pada siswa di mana kelompok-kelompok siswa dibawa ke dalam suatu persoalan atau mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di dalam suatu prosedur dan struktur kelompok yang digaruskan secara jelas.
Peran guru dalam strategi inkuiri menurut Gulo (2002) adalah sebagai berikut:
1. Motivator, yang memberi rangsangan kepada para agar aktif dan bergairah di dalam belajar
2. Fasilitator, yaitu memberi petunjuk-petunjuk bagi penyelesaian persoalan belajar siswa
3. Pengarah, yaitu memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan
4. Administrator, yaitu bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan di kelas
5. Manajer, yaitu mengelola sumber belajar, waktu dan organisasi kelas
6. rewarder, yaitu memberi penghargaan terhadap prestasi yang dicapai siswa dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.
Langkah pasti meraih prestasi dan unggul dalam financial dan kebebasan financial
Kamis, 23 Juni 2011
Hubungan Psikologi dan Pendidikan
Psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan untuk mencapai tujuan. Tingkah laku dalam pengertian ini, adalah tingkah laku yang mempunyai tujuan. Psikologi menjelaskan berbagai aspek perkembangan individu, melakukan analisis dan menjelaskan berbagai gejala-gejala jiwa manusia. Sedangkan pendidikan mengembangkan berbagai potensi, yang secara luas melibatkan aspek fisik dan psikis pada manusia. Ini menunjukkan bahwa psikologi dan pendidikan merupakan satu hubungan yang sangat penting dalam konteks pertumbuhan dan perkembangan manusia. Hubungan antara psikologi dan pendidikan kemudian melahirkan cabang ilmu baru yang dikenal dengan psikologi pendidikan.
Oleh karena itu, psikologi pendidikan kemudian memfokuskan diri dalam mengamati berbagai tingkah laku yang terkait dengan mendidik, belajar dan mengajar. George J Mouly, mengemukakan:
To the extent that psychology is the science most directly concerned with the study of behavior, it must necessarily supply the major part of the scientific of foundation of educational practice. In fact, psychology can contribute to every aspect of educational practice through the clarification of the nature learner, of the larning process, and of the role of the teacher.
Pendapat Mouly di atas menjelaskan bahwa psikologi sangat membantu di dalam memahami struktur dan berbagai aspek psikologi dari para peserta didik sehingga proses pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif. Pandangan ini menegaskan arti penting psikologi dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini, psikologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang vital dalam praktek pendidikan, mulai dari interaksi guru dan murid, pemilihan bahan dan metode mengajar yang tepat, memacu perkembangan fisik dan mental anak untuk mencapai tujuan pembelajaran dan lain-lain.
Kaitannya dengan pembelajaran, maka psikologi pendidikan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran, di antaranya:
1. Membantu guru dalam membuat disain instruksional
2. Disain instruksional adalah suatu rancangan untuk melaksanakan proses belajar mengajar, yang berisi rancangan untuk menentukan isi materi, tujuan yang hendak dicapai, bagaimana proses, serta evaluasi yang tepat.
3. Membantu guru di dalam “memahami” anak didik
Oleh karena itu, psikologi pendidikan kemudian memfokuskan diri dalam mengamati berbagai tingkah laku yang terkait dengan mendidik, belajar dan mengajar. George J Mouly, mengemukakan:
To the extent that psychology is the science most directly concerned with the study of behavior, it must necessarily supply the major part of the scientific of foundation of educational practice. In fact, psychology can contribute to every aspect of educational practice through the clarification of the nature learner, of the larning process, and of the role of the teacher.
Pendapat Mouly di atas menjelaskan bahwa psikologi sangat membantu di dalam memahami struktur dan berbagai aspek psikologi dari para peserta didik sehingga proses pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif. Pandangan ini menegaskan arti penting psikologi dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini, psikologi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang vital dalam praktek pendidikan, mulai dari interaksi guru dan murid, pemilihan bahan dan metode mengajar yang tepat, memacu perkembangan fisik dan mental anak untuk mencapai tujuan pembelajaran dan lain-lain.
Kaitannya dengan pembelajaran, maka psikologi pendidikan sangat membantu kelancaran proses pembelajaran, di antaranya:
1. Membantu guru dalam membuat disain instruksional
2. Disain instruksional adalah suatu rancangan untuk melaksanakan proses belajar mengajar, yang berisi rancangan untuk menentukan isi materi, tujuan yang hendak dicapai, bagaimana proses, serta evaluasi yang tepat.
3. Membantu guru di dalam “memahami” anak didik
Pendidikan Karakter
Persoalan real yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter bangsa (Nation Character Building). Bagaimana Nilai-nilai budaya banagsa yang telah mengakar kuat berhadapan dengan pusaran arus globalisasi yang demikian mengancam. Bagaimanapun juga khazanah keragaman budaya dan heterogenitas masyarakat Indonesia, di satu sisi merupakan keistimewaan namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran. Dalam diskursus pendidikan, hal tersebut harus dibahas, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.
Abd.Rachman Assegaf, mengemukakan bahwa: Diskursus pendidikan bukanlah merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri, melainkan dikelilingi oleh entitas lain yang saling bersinergi. Problema sosial, politik, budaya, hukum, falsafah, ekonomi dan lain-lain merupakan entitas di luar pendidikan yang memiliki pengaruh interkonektif cukup intens terhadap pendidikan. (Mustofa Rembangy, Pendidikan Transformatif, Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta: Teras, 2008, h.xxiii)
Dari sisi yang berbeda walau dengan perspektif yang sama dikemukakan oleh Suyanto bahwa icon biggrin Pendidikan Karakter i era global seperti saat ini dan masa yang akan datang, penguasaan teknologi informasi menjadi sangat penting bagi eksistensi suatu bangsa. Oleh karena itu, dilihat dari aspek pendidikan, era global berdampak pada cepat usangnya hardware dan software bidang pendidikan. Dengan demikian, sektor pendidikan harus diberdayakan setiap saat.(Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional Dalam Percaturan Global Dunia, Jakarta, PSAP Muhammadiyah, 2006, h. 15)
Dari dua pandangan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan penting, bahwa di era globalisasi, pendidikan dan semua anasir-anasirnya, terutama kebudayaan, harus selalu berhubungan secara sinergis, dan untuk mencapai harmonisasi tersebut dibutuhkan penguasaan teknologi informasi yang up to date.
Karena itu, fenomena multikulutralisme harus menjadi perhatian kebijakan pendidikan di Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa upaya menggagas pendidikan yang berbasis multikulturalisme menjadi signifikan.
Abd.Rachman Assegaf, mengemukakan bahwa: Diskursus pendidikan bukanlah merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri, melainkan dikelilingi oleh entitas lain yang saling bersinergi. Problema sosial, politik, budaya, hukum, falsafah, ekonomi dan lain-lain merupakan entitas di luar pendidikan yang memiliki pengaruh interkonektif cukup intens terhadap pendidikan. (Mustofa Rembangy, Pendidikan Transformatif, Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta: Teras, 2008, h.xxiii)
Dari sisi yang berbeda walau dengan perspektif yang sama dikemukakan oleh Suyanto bahwa icon biggrin Pendidikan Karakter i era global seperti saat ini dan masa yang akan datang, penguasaan teknologi informasi menjadi sangat penting bagi eksistensi suatu bangsa. Oleh karena itu, dilihat dari aspek pendidikan, era global berdampak pada cepat usangnya hardware dan software bidang pendidikan. Dengan demikian, sektor pendidikan harus diberdayakan setiap saat.(Suyanto, Dinamika Pendidikan Nasional Dalam Percaturan Global Dunia, Jakarta, PSAP Muhammadiyah, 2006, h. 15)
Dari dua pandangan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan penting, bahwa di era globalisasi, pendidikan dan semua anasir-anasirnya, terutama kebudayaan, harus selalu berhubungan secara sinergis, dan untuk mencapai harmonisasi tersebut dibutuhkan penguasaan teknologi informasi yang up to date.
Karena itu, fenomena multikulutralisme harus menjadi perhatian kebijakan pendidikan di Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa upaya menggagas pendidikan yang berbasis multikulturalisme menjadi signifikan.
Memahami Paradigma Pendidikan
Pendidikan yang berguna adalah pendidikan yang menyadarkan sikap kritis terhadap dunia dan mengarahkan perubahannya (Nur Syams, 2008: 194) Dalam menghadapi dunia, pendidikan diarahkan tidak hanya pada kemampuan retorika yang bersifat verbal, akan tetapi juga mengarah kepada pendidikan kelakuan yang bertumpu pada kemampuan profeesional.
Untuk mememiliki kemampuan itu tentunya harus dirangsang sikap kritis terhadap kenyataan-kenyataan di sekelilingnya dan berbekal dengan sikap kritis itu, akan ditemukan berbagai pengalaman yang dialaminya sendiri dan masyarakatnya. Dari self empowerment ke social empoweriment.
Kurikulum pendidikan seharusnya tidak didominasi oleh pola pendidikan tradisional yang mengedepankan uraian verbal dan hafalan ketimbang kemampuan praktik yang menrangsang profesionalisme. Akibatnya dunia pendidikan lebih banyak menghasilkan retorika atau ungkapan-ungkapan verbal, ketimbang mencermati kenyataan-kenyataan sosial dan kemudian mengubahnya melalui kemampuan yang dimilikinya.
Karena itu, harus diakui bahwa pendidikan itu adalah sesuatu yang value laden bukan value free. Sebagai dunia yang value laden maka dunia pendidikan diharapkan memiliki: (1) kesadaran kritis yang didasari oleh suatu landasan etika, sehingga mampu memisahkan berbagai hal dalam kerangka konseptual yang tepat. (2) memiliki kemampuan profesional sehingga mampu mengaplikasikan sesuai dengan bidang yang digelutinya, (3) memiliki kemampuan sebagai agen perubahan dan pelopor bagi masyarakatnya.
Jika -setidaknya- ketiga hal tersebut mampu tercermin dalam wajah pendidikan kita, maka yakinlah bahwa pendidikan akan menemukan bentuknya yang benar menuju kepada terwujudnya masyarakat pendidikan yang dicita-citakan.
Untuk mememiliki kemampuan itu tentunya harus dirangsang sikap kritis terhadap kenyataan-kenyataan di sekelilingnya dan berbekal dengan sikap kritis itu, akan ditemukan berbagai pengalaman yang dialaminya sendiri dan masyarakatnya. Dari self empowerment ke social empoweriment.
Kurikulum pendidikan seharusnya tidak didominasi oleh pola pendidikan tradisional yang mengedepankan uraian verbal dan hafalan ketimbang kemampuan praktik yang menrangsang profesionalisme. Akibatnya dunia pendidikan lebih banyak menghasilkan retorika atau ungkapan-ungkapan verbal, ketimbang mencermati kenyataan-kenyataan sosial dan kemudian mengubahnya melalui kemampuan yang dimilikinya.
Karena itu, harus diakui bahwa pendidikan itu adalah sesuatu yang value laden bukan value free. Sebagai dunia yang value laden maka dunia pendidikan diharapkan memiliki: (1) kesadaran kritis yang didasari oleh suatu landasan etika, sehingga mampu memisahkan berbagai hal dalam kerangka konseptual yang tepat. (2) memiliki kemampuan profesional sehingga mampu mengaplikasikan sesuai dengan bidang yang digelutinya, (3) memiliki kemampuan sebagai agen perubahan dan pelopor bagi masyarakatnya.
Jika -setidaknya- ketiga hal tersebut mampu tercermin dalam wajah pendidikan kita, maka yakinlah bahwa pendidikan akan menemukan bentuknya yang benar menuju kepada terwujudnya masyarakat pendidikan yang dicita-citakan.
Rabu, 01 Juni 2011
Diklat Penelitian Pendidikan Tingkat Nasional
Selasa, 24 Mei 2011
Jangan buang komputer lama anda( mengandung emas) :P
Jangan buang komputer lama anda( mengandung emas) :P
Anda punya komputer bekas yang tak terpakai? Entah itu komputer 486, Pentium I, II maupun Pentium III. Atau monitor analog 14 atau 15 yang tak terpakai dan rusak parah?
Anda tentu berfikiran untuk membuang saja komputer dan monitor jadul itu karena memenuhi ruang gudang anda dan untuk menjualnya anda juga berfikir tidak akan laku..
Eit… nanti dulu, jika anda berfikir itu tidak laku anda tentu akan cukup tercengang berapa sebuah komputer yang tidak terpakai itu laku dalam pasaran barang bekas dan untuk apa barang itu digunakan.
Sebuah CPU bekas misalnya, bisa berharga antara 50 ribu sampai 100 ribu perunit, tak peduli apakah itu 486, Pentium I, II dan III.
Sebuah monitor dihargai antara 65 ribu sampai dengan 85 ribu rupiah. Mengejutkan bukan?
Dalam sebuah CPU, bila dirinci maka akan dihitung sebagai berikut:
Quote:
- Motherboard dihargai Rp. 35000 /kg. Jadi bila dengan hitungan perkilo antara 2 hingga 3 motherboard, maka sebuah motherboard adalah seharga Rp. 15000 – Rp. 20.000
- Processor 486 dihargai Rp. 45.000 dan Pentium 1 dengan bahan keras dihargai Rp. 12.000 dan Pentium 1 lurik dihargai Rp. 4000
- Harddisk dihargai Rp. 5000
- CD Rom dihargai Rp. 2000 – Rp. 4000/buah
- Power Supply dihargai Rp. 5000/buah
- Casing dihargai Rp. 5.000/buah
- Sebuah SDRam dihargai Rp. 1.000/keping
- Printer rusak dihargai Rp. 2000/kg
Ladang Emas
Processor 486, incaran "Penambang Emas" kota
Memang, bagi sebagian orang mengumpulkan komputer rusak dan jadul yang sudah tidak terpakai merupakan ladang hidup. Bahkan “booming” perburuan komputer rusak itu merambah pada hampir semua lapak di Jakarta dan Bekasi. Sehingga sangat mudah bagi pengepul (orang yang mengumpulkan barang bekas) untuk menjual ke lapak maupun ke tukang bajong (orang yang mengumpulkan barang bekas dari pengepul tanpa lewat lapak).
Syukur-syukur, bisa mendapat komputer bekas yang masih layak di jual beberapa spare partnya, malah bisa dijual di toko-toko komputer.
Disaat harga beberapa logam jatuh, pilihan untuk mengumpulkan barang bekas komputer menjadi incaran para pengepul.
Untuk apa barang-barang tersebut?
Barang-barang komputer yang berhasil dikumpulkan dipreteli untuk memisahkan barang-barang menurut jenisnya. Alumunium, besi, tembaga, tabung monitor, mikron, dikumpulkan menurut jenisnya masing-masing. Setelah itu ada saja “bos” masing-masing barang mengambil dengan hitungan per kilo. Ada bos besi, bos alumunium, bos tabung, dll.
Dan yang mengejutkan, ada Emas dalam IC komputer! IC ini menjadi incaran para “penambang emas” dikota untuk meleburnya menjadi emas! Jadi, memang ada emas pada komputer bekas.
Anda punya komputer bekas yang tak terpakai? Entah itu komputer 486, Pentium I, II maupun Pentium III. Atau monitor analog 14 atau 15 yang tak terpakai dan rusak parah?
Anda tentu berfikiran untuk membuang saja komputer dan monitor jadul itu karena memenuhi ruang gudang anda dan untuk menjualnya anda juga berfikir tidak akan laku..
Eit… nanti dulu, jika anda berfikir itu tidak laku anda tentu akan cukup tercengang berapa sebuah komputer yang tidak terpakai itu laku dalam pasaran barang bekas dan untuk apa barang itu digunakan.
Sebuah CPU bekas misalnya, bisa berharga antara 50 ribu sampai 100 ribu perunit, tak peduli apakah itu 486, Pentium I, II dan III.
Sebuah monitor dihargai antara 65 ribu sampai dengan 85 ribu rupiah. Mengejutkan bukan?
Dalam sebuah CPU, bila dirinci maka akan dihitung sebagai berikut:
Quote:
- Motherboard dihargai Rp. 35000 /kg. Jadi bila dengan hitungan perkilo antara 2 hingga 3 motherboard, maka sebuah motherboard adalah seharga Rp. 15000 – Rp. 20.000
- Processor 486 dihargai Rp. 45.000 dan Pentium 1 dengan bahan keras dihargai Rp. 12.000 dan Pentium 1 lurik dihargai Rp. 4000
- Harddisk dihargai Rp. 5000
- CD Rom dihargai Rp. 2000 – Rp. 4000/buah
- Power Supply dihargai Rp. 5000/buah
- Casing dihargai Rp. 5.000/buah
- Sebuah SDRam dihargai Rp. 1.000/keping
- Printer rusak dihargai Rp. 2000/kg
Ladang Emas
Processor 486, incaran "Penambang Emas" kota
Memang, bagi sebagian orang mengumpulkan komputer rusak dan jadul yang sudah tidak terpakai merupakan ladang hidup. Bahkan “booming” perburuan komputer rusak itu merambah pada hampir semua lapak di Jakarta dan Bekasi. Sehingga sangat mudah bagi pengepul (orang yang mengumpulkan barang bekas) untuk menjual ke lapak maupun ke tukang bajong (orang yang mengumpulkan barang bekas dari pengepul tanpa lewat lapak).
Syukur-syukur, bisa mendapat komputer bekas yang masih layak di jual beberapa spare partnya, malah bisa dijual di toko-toko komputer.
Disaat harga beberapa logam jatuh, pilihan untuk mengumpulkan barang bekas komputer menjadi incaran para pengepul.
Untuk apa barang-barang tersebut?
Barang-barang komputer yang berhasil dikumpulkan dipreteli untuk memisahkan barang-barang menurut jenisnya. Alumunium, besi, tembaga, tabung monitor, mikron, dikumpulkan menurut jenisnya masing-masing. Setelah itu ada saja “bos” masing-masing barang mengambil dengan hitungan per kilo. Ada bos besi, bos alumunium, bos tabung, dll.
Dan yang mengejutkan, ada Emas dalam IC komputer! IC ini menjadi incaran para “penambang emas” dikota untuk meleburnya menjadi emas! Jadi, memang ada emas pada komputer bekas.
Senin, 25 April 2011
Langganan:
Postingan (Atom)