Senin, 04 Oktober 2010

Pembinaan Potensi Anak Diluar Intelegensi

Pembinaan Potensi Anak Diluar Intelegensi

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur” (QS. An Nahl [16]:78)

Pengembangan sikap-sikap sejak dini kepada anak menghasilkan “kebiasaan-kebiasaan” baik dalam diri anak. Kebiasaan menyebabkan anak secara “spontan” menghadapi satu situasi hidup selalu berpegangan kepada norma perilaku yang dianuti. Menghadapi sesama yang terkena musibah selalu siap membantu; menghadapi kemungkinan meraup uang atas cara yang curang, anak tersebut akan berusaha tetap jujur dan tidak curang karena merasa bertanggung jawab kepada Allah SWT.

Sikap-sikap ini pada umumnya dikembangkan melalui mata pelajaran yang bermuatan paham dan nilainilailuhur kemanusiaan. Mata pelajaran itu adalah pendidikan Agama, budi pekerti, dahulu PMP, PPKn dan sejenisnya. Pertanyaannya adalah mengapa melalui sekian banyak jam pendidikan agama di SD (dua jam per pekan artinya minimal 80 jam per tahun, atau 480 jam selama jenjang SD) dan dilanjutkan pada jenjang-jenjang berikutnya, pendidikan Agama tidak atau kurang memberikan hasil yang diinginkan? Mengapa warga bangsa yang mengikuti sekian puluh bahkan sekian ratus jam PMP tidak nampak lebih adil secara sosial, lebih beradab secara manusia, dan lain-lain?

Relevansi ditentukan oleh bermanfaat tidaknya bekal hidup yang diberikan. Sampai saat ini kalangan guru dan pendidik masih menganuti paham tradisional. Anak yang membawa harapan adalah anak yang dinilai cerdas, dalam arti memiliki kemampuan intelektual tinggi (=ber-IQ tinggi). Penelitian longitudinal yang dibuat kalangan Harvard memberikan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa keberhasilan di dalam hidup bukan ditentukan oleh tingginya IQ. Ada faktor lain yang lebih berpengaruh. Satu dari faktor lain itu adalah kecerdasan emosional. Kemudian ditemukan lagi beberapa “kecerdasan” lain, yang turut menentukan keberhasilan seseorang didalam kehidupan yang konkret. Apabila sekolah-sekolah ingin relevan, artinya ingin memberikan bekal hidup bagi peserta didik, maka temuan diatas harus mengubah titik berat pendidikan dan dunia persekolahan kita. Kita tetap meningkatkan kemampuan intelektual, akan tetapi kita tidak boleh berat sebelah. Peningkatan kemampuan emosional dan kemampuan-kemampuan lain harus mendapat porsi yang seimbang. Sekarang digunakan satu skala nilai untuk “mengukur” kadar intelektual murid, padahal untuk mengukur kemampuan emosi dan lain-lain tidak ada alatnya. Di dalam raport dituliskan nilai berdasarkan daya serap (intelek!) murid. Untuk “kecerdasan” lain, yang sebenarnya lebih menentukan keberhasilan murid di dalam kehidupan, hanya ada catatan tentang kelakuan. Dalam kolom kelakuan pada umumnya ditulis dengan gampang “baik”, tanpa skala nilai yang sedikit lebih akurat. Memang dunia pendidikan kita masih mendewakan kemampuan intelektual. Demi relevansi pendidikan, hal ini harus diubah. Sekolah harus memberikan perhatian serius dan meluangkan waktu dan jam pelajaran untuk mengembangkan kemampuan emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan bekerja sama dalam kelompok,dan lain-lain.

Pembinaan potensi-potensi diluar inteligensi harus dijadwalkan baik di dalam jam pelajaran, maupun melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, berprakarsa dan bekerjasama dalam kelompok dan lain-lain.

Bekal hidup yang penting tetapi kurang diperhatikan disekolah-sekolah adalah sikap-sikap hidup yang membentuk watak seseorang. Sikap sederhana, jujur, terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi, ramah-tamah dan bersahabat, siap bahu-membahu didalam pergaulan sehari-hari, cinta yang ikhlas kepada sesama, khususnya yang kurang “beruntung”, tidak hanya mementingkan diri sendiri, cinta tanah air tanpa terkungkung dalam chauvenisme yang sempit dan lain-lain, merupakan sikap-sikap yang menjadi permata-permata dalam kepribadian seseorang.

Kognisi dapat diartikan sebagai kegiatan berpikir; mencari, mengelola sampai menggunakan pengetahuan. Anak yang sedang memfungsikan kognisinya akan memulai dari mengamati sesuatu, selanjutnya dicerna dan kemudian dipikirkan. Afeksi merupakan perasaan yang dimiliki anak terhadap sesuatu. Seperti perasaan senang dan sedih, suka dan tidak suka, baik dan buruk, termasuk sikap dan akhlak.

Psikomotor berhubungan dengan fisik, misalnya gerakan-gerakan tubuh. Anak yang memiliki psikomotor yang baik dapat melakukan gerakan-gerakan fisik dengan seimbang, terarah dan gerakan tersebut memiliki tujuan yang baik.

Usaha meningkatkan kecerdasan anak harus meliputi seluruh ranah pribadi anak, yaitu ranah kognisi, afeksi dan psikomotor. Hal ini dilakukan bertujuan agar anak memperoleh keseimbangan dalam dirinya. Ketika anak cerdas namun juga memiliki kejujuran, tanggungjawab kedisiplinan serta memiliki kekuatan tubuh (fisik) yang baik.

Setiap ranah yang ada dalam diri anak dapat ditingkatkan dengan cara yang berbeda-beda. Untuk meningkatkan kemampuan kognisi anak, orang tua perlu memberi makanan berupa ilmu pengetahuan, berita dari berbagai media, buku-buku bacaan, alat permainan yang merangsang kreatifitas (seperti permainan pasir, balok kreatif, kartu imajinatif, dan sebagainya). Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan Afeksi anak, orang tua bisa memberikan makanan berupa kasih sayang, perhatian, motivasi, ucapan-ucapan bijak dan lembut yang disampaikan pada anak. Dan untuk meningkatkan kemampuan Psikomotor anak, makanannya berupa asupan gizi 4 sehat 5 sempurna, olah raga dan aktivitas gerakan fisik yang cukup.

Saat ini kita bisa dikatakan tak perlu kawatir dengan pemenuhan peningkatan kemampuan kognisi dan psikomotor anak. Di sekolah anak cukup memperoleh rangsangan untuk meningkatkan pengetahuan mereka melalui mata pelajaran yang diberikan. Demikian juga kegiatan olah raga yang rutin disekolah ataupun perhatian kita terhadap gizi anak akan memenuhi kebutuhan peningkatan kemampuan psikomotor anak. Walau demikian bukan berarti di rumah kita tidak perlu lagi memberikan pengetahuan atau perhatian terhadap perkembangan fisik.

Namun yang sangat perlu diperhatikan pada saat ini adalah sentuhan afeksi pada anak-anak kita. Anak yang memiliki afeksi yang kuat berarti memiliki kepekaan atau perasaan yang kuat, ia memahami perasaan apa yang sedang ia rasakan, dan mampu memahami perasaan orang lain. Ketika ia kesal karena dijahili temannya, maka reaksi yang muncul adalah kekesalan bukan amarah atau sampai mendendam. Dan seketika itu pula ia tahu bagaimana menyikapi dirinya ketika ia sedang kesal, agar jangan sampai kekesalannya itu menyakiti temannya tadi. Misalnya dengan kekesalannya itu, ia tidak lantas marah-marah atau sampai memukul temannya, tetapi ia akan dengan lapang dada mengatakan pada temannya ”Saya ga suka, kalau kamu jahilin saya!”.

Afeksi yang baik dalam diri anak juga tercermin dalam kekuatan spiritual anak. Anak yang taat pada kedua ibu bapaknya, mampu menyayangi anak yatim, mengasihi fakir miskin, mampu berserah diri pada Allah, serta taat dalam ibadah menunjukkan kecerdasan afeksi yang dimiliki anak. Karena semua aktivitas tersebut hanya dimiki oleh anak yang peka dan kuat perasaannya.

Rasulullah SAW telah memberikan contoh bagaimana mengembangkan afeksi anak, yaitu dengan memberi ciuman pada anak-anak sebagai wujud rasa sayang Beliau. Dengan demikian aktivitas mencium, membelai, memeluk anak perlu diberikan orang tua kepada anak sehari-hari. Selain itu orang tua juga bisa mengembangkan afeksi anak melalui pemberian motivasi dan keteladanan. Misalnya dengan senantiasa memberikan dorongan anak untuk berbuat baik, mendorong anak untuk memiliki akhlak terpuji maupun mendorong anak untuk senantiasa berdoa dan berserah diri pada Allah SWT.

Melalui keteladanan, afeksi anak juga dapat dikembangkan. Misalnya orang tua mudah memaafkan dan meminta maaf pada anaknya, tentu hal ini akan dicontoh anak. Lainnya, seperti memberi keteladanan dalam bentuk bersabar ketika mengingatkan anak yang lalai, lembut dalam tutur kata, jujur dalam berbicara, bertanggung jawab atas apa yang dipilih atau dilakukan. Semua hal tersebut akan mengembangkan afeksi anak.

Hal lain yang bisa dilakukan, bisa sesekali waktu mengajak anak rihlah (jalan-jalan) ketempat yang pemandangannya indah, seperti pegunungan, sungai, daerah pedesaan yang asri dan sebagainya. Disana, anak kita sentuh afeksinya dengan mengajak mereka merenungi ciptaan Allah yang sangat indah yang wajib disyukuri, merenungi bagaimana ketika bencana tiba-tiba terjadi maka pertolongan Allah SWT yang harus kita pinta untuk pertama kali. Demikianlah beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua untuk meningkatkan kecerdasan anak. Segala usaha tetap harus dibarengi dengan do’a, kemudian berserah diri atas usaha yang telah kita lakukan.

Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan. Melalui bermain seorang anak dapat melakukan percobaan-percobaan tanpa merasa takut gagal karena dalam kegiatan itu merekalah yang membuat peraturan. Terdapat berbagai jenis permainan yang dapat menimbulkan aktivitas menyenangkan bagi diri seseorang. Permainan eksploratif dan imajinatif merupakan jenis permainan yang mempunyai pengaruh yang besar peda perkembangan berfikir kreatif pada seorang anak. Pada permainan eksploratif, kegiatan bermain didasari keingintahuan seseorang terhadap seseorang terhadap lingkungannya yang ditandai oleh adanya penemuan-penemuan baru. Dunia anak penuh dengan pemikiran yang imajinatif. Dalam bermain imajinatif, anak mencipta dan berkhayal dengan menggunakan dirinya, permainan-permainan atau objek-objek lain yang ada disekitarnya. Bermain bagi anak adalah esensial dan mempunyai dampak luar biasa bagi keseluruhan aspek perkembangannya.

Anak-anak yang sudah sejak kecil biasa dan senang untuk bersibuk diri secara kreatif, kelak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Sikap ingin tahu, suka hal-hal yang baru, meneliti dan menguji, kesenangan dan kepuasan yang dirasakan dari mencipta sesuatu sendiri, merasa tertantang untuk memecahkan masalah-masalah rumit, sikap ini akan dibawa sampai masa dewasa. Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang pertama kali ditemui anak setelah ia mempunyai kesempatan keluar dari lingkungannya yang pertama yaitu bersama orang tuanya di dalam keluarga. Sementara itu orang tua ingin mengembangkan semaksimal. Untuk kepentingan ini, diperlukan adanya sarana pembelajaran (media) yang efektif, metode pembelajaran yang praktis dan memberi pembelajaran (orang tua atau guru) yang inovatif.

Dalam sistem pendidikan di Taman Kanak-kanak digunakan kurikulum. Sangat disayangkan belakangan ini pelaksanaan dari kurikulum Taman Kanak-kanak sangat kaku, ditambahnya lagi adanya tren bahwa Taman Kanak-kanak yang baik adalah yang memiliki kegiatan kurikuler yang padat ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler yang juga padat. Betul bahwa kurikulum perlu dilaksanakan dan diperkaya, namun seharusnya dilakukan dengan meletakkan anak sebagai sentral dalam pendidikan itu sendiri, agar potensi dasar mereka yaitu kreatifitas dan imajinasinya dapat berkembang dengan baik. Suatu kenyataan bahwa sampai sekarang sarana pembelajaran di Taman Kanak-kanak belum ada yang memadai dalam arti menyangkut pengembangan potensi. Kalaupun ada, sarana tersebut merupakan bagian yang terpotong-potong atau sekedar alat peraga atau berupa lembar kegiatan anak yang semuanya berbentuk parsial. Padahal, anak dalam pengembangan potensinya yang meliputi pengembangan otak kiri dan otak kanan secara seimbang memerlukan sarana yang benar-benar dirancang dan ditampilkan secara efektif.

Sedangkan dengan metode pembelajaran yang selama ini berlaku, kreatifitas anak sering diintervensi oleh para guru. Di Taman Kanak-kanak yang terutama dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan dan penalaran saja. Anak-anak pun menjadi robot. Padahal dengan kreatifitas seorang anak dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam kehidupan manusia.

Selain itu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya yang selama ini tersisihkan dari pendidikan anak, yaitu muatan keagamaan (akidah, ibadah, muamalah) yang seharusnya terintegrasi dengan muatan kurikuler. Padahal, anak adalah calon penguasa bumi (khalifatullah fil ardhi) (QS. Al Baqoroh [2]:30) Persiapan ke arah itu sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Dengan tersisihnya pendidikan keagamaan itu, anak tidak memiliki landasan kuat dalam menghadapi perubahan dunia. Padahal Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya. Pengembangan potensi dasar anak sangat perlu dilandasi dengan warna dan rasa religius agar pada akhirnya dapat ditampilkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia serta kreatif imajinatif illahiah. Sosok pribadi yang berguna bagi dirinya maupun agama dan bangsa. Dengan demikian diperlukan adanya sarana yang mengembangkan kreatifitas dan imajinasi serta penuh dengan nuansa agama yang masih belum kita temukan secara memadai.

Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif adalah model pembelajaran yang memberikan rangsangan secara seimbang antara otak kiri dan otak kanan sehingga potensi dasar anak terutama kreativitas dan imajinasinya dapat berkembang secara seimbang dengan memberikan sentuhansentuhan Islami pada kognisi, afeksi dan psikomotor anak. Rangsangan-rangsangan dan sentuhan tersebut disajikan dalam pembinaan akidah, ibadah dan muamalah yang disampaikan dengan cara yang mengasyikkan sehingga anak akan merasakan kenikmatan hidup beragama. Sarana yang dipersiapkan bagi Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif di TK disusun berdasarkan Kurikulum, psikologi perkembangan anak dan konsep pembelajaran kreatif imajinatif yang diintegrasikan dengan materi agama dan kemampuan dasar anak.

Orang tua memiliki kewajiban untuk membentuk generasi pengubah peradaban. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kreatifitas anak-anak. Berdasarkan ajaran Islam, tanggung jawab pendidikan, pembentukan kualitas, dan kepribadian anak merupakan tanggung jawab kedua orang tua.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bertauhid). Maka tergantung kepada orang tuanya, apakah akan menjadikannya Yahudi, Nasrani, ataukah Majusi”.

Ciri utama suatu keluarga tradisional dalam mendidik anak adalah berpegang teguh pada pengalaman pribadi. Membiarkan anak berkembang sendiri, tidak memberi rangsangan kognisi dan meyakini faktor keturunan paling berperan dalam pembentukan kepribadian intelegensia. Dengan pola asuh seperti ini anak umumnya tampak kurang cerdas dibanding anak-anak keluarga modern dan keluarga ambivales (modernis tradisional).

Lalu apa yang harus dilakukan orangtua agar dapat mengembangkan potensi kreatifitas anak?
Berikan kebebasan kepada anak untuk berkreasi dan mengekspresikan diri. Kebebasan disini lebih pada adanya jaminan penghargaan terhadap setiap kreasi anak. Penghargaan adalah bukti adanya dukungan psikologis orangtua yang dapat menghadirkan rasa aman dalam diri anak. Adanya rasa aman membuat anak sanggup mengkontrol rasa takutnya (takut salah, takut dimarahi, takut mencoba, dsb) yang oleh para ahli disebutkan sebagai penghalang utama kreatifitas. Penerapan disiplin sejak dini pada anak bertujuan untuk melatih tanggungjawabnya, bukan untuk memandulkan kreativitasnya. Adanya rasa tanggung jawab merupakan awal pengembangan kreatifitas. Kreatifitas bukan hanya terkait dengan dinamika fisik tapi juga situasi mental. Pada tahap tertentu seorang yang kreatif biasanya energik, tapi tidak selalu demikian. Kreativitas itu dimulai dengan berimajinasi dalam rangka berpikir mencari solusi. Tidak ada orang kreatif yang tidak suka merenung. Orang tua dapat mendorong anak untuk belajar melakukan imajinasi, merangkai gagasan dan pikiran serta mengolah ide-ide.

Orangtua dapat mengelola potensi anak dengan memberinya keteladanan. Jangan biarkan anak menjumpai hal yang kontradiktif antara pernyataan verbal dan realita. Hal penting lainnya dalam pengelolaan potensi anak adalah pewadahan. Orangtua harus siap mewadai setiap bentuk kreatifitas anak dengan cara yang benar.

Dalam banyak kasus ditemui orangtua yang cerdas, kreatif namun otoriter sehingga anak tidak kreatif. Orangtua cenderung membandingkan hasil karya anak dengan kesuksesan dirinya. Anak hidup dalam bayang-bayang orangtua. Jadi pewadahan adalah kemampuan jiwa atau mentalitas orangtua untuk rajin mendengarkan, mau mengalah, mau mendukung, dan mau membiayai. Orangtua yang kreatif memiliki
peluang besar untuk melahirkan anak kreatif, karena ia menggunakan cara-cara kreatif dalam berinteraksi dengan anak. Kreatif bisa ketika sedang mengajar, memberikan makanan, menyelesaikan konflik anak, mensosialisasikan anak, bermain dengan anak dan lain-lain.

Sehubungan dengan pendidikan nilai sangat penting peran keluarga. Diatas dikatakan bahwa pendidikan nilai selalu berpangkal tolak dari pengalaman dan mengarah kepada pengamalan. Nah, tanpa mengucap banyak kata dan membeberkan seluk beluk ajaran dan teori, didalam keluarga terjadi secara spontan pengalaman-pengalaman bersama, yang menggugah bukan saja nalar, ingatan, perasaaan dan kehendak manusia. Pengalaman bersama dibagi dan dikaji serta ditafsir bersama. Paham dan nilai yang terkandung didalam pengalaman, diresapi, dihayati dan diamalkan bersama. Didalam keluarga kesabaran, sikap ramah, tenggang-rasa, dan lain-lain tidak diajarkan dengan katakata, tetapi dengan teladan, dengan pengamalan yang diperoleh dalam kehidupan kehidupan keluarga sehari-hari. Pengalaman membuka mata orang, dan pengalaman mengajak orang untuk bertindak. Dari seorang Ibu yang serba sabar, Ayah dan anak-anak belajar menghargai kesabaran dan berusaha untuk juga sabar. Dari seorang Ayah yang tegas dalam pendirian tetapi supel dalam menerapkan pendidikan, anak-anak belajar memiliki pendirian tetapi bijaksana dalam menerapkan pendidikan tersebut. Tentu saja pengalaman dan pengamalan paham dan nilai di dalam keluarga mengandaikan keluarga itu benarbenar memiliki, dan berpegang teguh kepada paham dan nilai tertentu. Kecuali itu harus ada di iklim yang serasi antara anggota keluarga. Ada saling memberi dan menerima, saling menghormati dan melayani, dan yang paling penting ada komunikasi timbal balik yang enak didalam suasana keakraban keluarga.

Sayang pola hidup keluarga-keluarga “modern” yang anggota-anggotanya memiliki kesibukkan dan pekerjaan masing-masing sering tidak menunjang iklim yang dibutuhkan untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi. Bila ingin memelihara suasana keakraban, dimana ada interaksi dan komunikasi, keluarga-keluarga harus bersedia menyusun jadwal, meluangkan untuk bersama-sama melakukan, menghayati, mengamalkan bahkan menikmati sesuatu. Di dalam kebersamaan paham dan nilai dipertukarkan, dihayati dan diamalkan. Karena kesibukkan, orang tua sering menyerahkan seluruh pendidikan anak ke tangan para pendidik dan pengasuh disekolah. Hal ini tidak tepat. Tugas mendidik, apalagi membina paham dan nilai menjadi sikap, kepribadian dan watak merupakan tugas orang yang sudah melahirkan anak, dengan kata lain tugas orang tua. Memang tidak semua tugas pendidikan dapat diemban dengan baik oleh orang tua. Untuk itu diciptakan lembaga-lembaga pendidikan. Akan tetapi, tidak boleh orang tua “lepas tangan” seluruhnya dalam urusan membesarkan dan mendewasakan anak. Kerja sama dengan pihak sekolah oleh lembaga pendidikan sangat baik dan dianjurkan, akan tetapi tidak boleh seluruh tugas mendidik dilimpahkan kepada sekolah/ lembaga pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kirim kritik dan saran :